Sembilan Spesies Kupu-Kupu Baru Ditemukan Dari Arsip Museum

52

Sebuah studi kolaboratif internasional, yang memanfaatkan spesimen sejarah dan pengurutan genetik modern, telah mengidentifikasi sembilan spesies kupu-kupu yang sebelumnya tidak dikenal bersembunyi di depan mata dalam koleksi museum. Penemuan ini menggarisbawahi pentingnya arsip sejarah alam yang penting namun sering diabaikan untuk penelitian keanekaragaman hayati.

Kekuatan “DNA Kuno”

Selama beberapa dekade, ahli entomologi mengandalkan karakteristik visual untuk mengklasifikasikan kupu-kupu. Namun, perbedaan kecil dapat dengan mudah terlewatkan, terutama di antara spesies yang berkerabat dekat. Terobosan ini datang dari penggabungan sampel kupu-kupu berumur satu abad dengan pengurutan DNA mutakhir. Para peneliti dari proyek AMISTAD, yang dipimpin oleh Natural History Museum di London, mengekstraksi materi genetik—bahkan dari fragmen seperti satu kaki kupu-kupu yang berusia lebih dari 100 tahun—untuk mengatasi kebingungan taksonomi.

“Dengan membandingkan DNA modern dengan DNA purba dari spesimen sejarah, kita dapat menyelesaikan spesies yang telah lama membingungkan dan tidak diketahui serta mengungkap keanekaragaman hayati yang lebih besar daripada yang diketahui sebelumnya.” – Christophe Faynel, Ahli Entomologi.

Pendekatan ini mengungkap sembilan spesies berbeda dalam genus Thereus kupu-kupu Amerika Selatan, kelompok yang ditemukan di daerah neotropis. Temuan ini baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa.

Mengapa Ini Penting Sekarang

Waktu penemuan ini bukanlah suatu kebetulan. Hutan tropis Amerika Selatan, habitat alami kupu-kupu ini, mengalami penggundulan hutan dengan cepat. Mengidentifikasi spesies-spesies ini sekarang sangatlah penting karena beberapa spesies mungkin sudah punah atau berada di ambang kepunahan. Para peneliti memprioritaskan genus Thereus karena kerentanannya, sehingga memastikan upaya konservasi dapat menargetkan populasi yang berisiko.

Spesies baru yang diberi nama termasuk Thereus cacao, T. ramirezi, dan T. confusus, dengan nama yang mencerminkan asal geografis dan tantangan taksonomi yang diatasi.

Museum sebagai “Arsip yang Tak Tergantikan”

Studi ini menyoroti potensi yang belum dimanfaatkan dalam koleksi sejarah alam. Museum Sejarah Alam di London sendiri menyimpan lima juta spesimen kupu-kupu, beberapa di antaranya berasal dari tahun 1600-an. Arsip-arsip ini bukan sekadar peninggalan masa lalu; mereka adalah perpustakaan keanekaragaman hayati yang hidup.

“Beberapa spesies yang baru diidentifikasi dikumpulkan seabad yang lalu di habitat yang mungkin sudah tidak ada lagi, sehingga membahayakan keberadaan spesies ini dan menyoroti pentingnya upaya ini.” – Blanca Huertas, Kurator Utama Kupu-Kupu.

Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan setelah berabad-abad, koleksi museum tetap menjadi sumber daya penting untuk memahami dan melestarikan ekosistem bumi yang berubah dengan cepat.

Pada akhirnya, penelitian ini merupakan pengingat bahwa keanekaragaman hayati di planet ini jauh lebih kaya—dan lebih rapuh—daripada yang dibayangkan sebelumnya.

попередня статтяPemerintahan Trump Menghentikan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Angin Lepas Pantai Karena Risiko Keamanan yang Tidak Ditentukan
наступна статтяBaterai Lithium-Ion dan Pohon Natal Kering: Bahaya Kebakaran Saat Liburan Diperingatkan oleh Badan Keamanan AS