Cetakan Ekstremofil Mengancam Koleksi Museum di Seluruh Dunia

34

Ancaman baru dan berbahaya muncul dalam dunia seni dan pelestarian artefak: jamur ekstremofil. Tidak seperti jamur tradisional yang tumbuh subur di kondisi lembab, spesies xerofilik ini tumbuh subur di lingkungan kering, memanfaatkan tindakan pengendalian iklim yang dirancang untuk melindungi koleksi dan mengubahnya menjadi tempat berkembang biak yang ideal. Museum-museum di seluruh Eropa dan sekitarnya secara diam-diam memerangi serangan yang tidak sesuai dengan metode konvensional, dan institusi-institusi ragu untuk mengakui masalah ini karena kekhawatiran akan pemotongan dana dan kerusakan reputasi.

Bencana Diam

Selama beberapa dekade, kurator mengandalkan pengendalian kelembapan untuk melindungi artefak dari pembusukan. Namun, para peneliti menemukan bahwa tindakan yang sama mungkin mendorong jenis invasi jamur yang berbeda. Jamur xerofilik, yang beradaptasi dengan kondisi keras seperti gurun dan lanskap vulkanik, kini memakan bahan warisan budaya – mulai dari lukisan kanvas dan furnitur kayu hingga permadani dan bahkan patung marmer. Organisme ini tidak hanya memakan bahan organik; mereka dapat mengekstrak nutrisi dari akumulasi debu di permukaan, sehingga hampir tidak terdeteksi hingga terjadi kerusakan yang signifikan.

Keheningan dan Penutupan Institusional

Masalah ini diperparah oleh budaya kerahasiaan dalam dunia museum. Lembaga sering kali menyembunyikan laporan mengenai infestasi untuk menghindari publisitas negatif, dan tim konservasi bersumpah untuk menjaga kerahasiaannya. Survei yang dilakukan oleh penulis mengungkapkan bahwa banyak museum besar – termasuk Louvre, British Museum, dan bahkan Museum Vatikan – mengabaikan pertanyaan atau memberikan tanggapan yang mengelak. Keheningan ini berasal dari ketakutan bahwa mengakui masalah jamur akan membahayakan pendanaan dan peluang pameran.

Bagaimana Xerofil Memanfaatkan Upaya Konservasi

Jamur ini, terutama yang termasuk dalam kelompok Aspergillus sectionstricti, tumbuh subur dalam kondisi kelembapan rendah yang akan membunuh sebagian besar jamur lainnya. Mereka menciptakan iklim mikro sendiri dengan menyerap kelembapan dari kristal garam, yang secara efektif mengubah lingkungan kering menjadi oasis bagi pertumbuhan jamur. Sistem penyimpanan kedap udara, seperti unit rak compactus, memperburuk masalah dengan memerangkap organisme-organisme ini dalam ekosistem yang mandiri.

Studi Kasus: Dari Denmark hingga Kyiv

Contoh infestasi jamur xerofilik telah didokumentasikan di berbagai institusi:

  • Denmark: Konservator Museum Roskilde menemukan bercak putih berkilauan pada tekstil yang tahan terhadap pengujian konvensional namun kemudian diidentifikasi sebagai spesies Aspergillus. Staf mengalami gejala mirip flu setelah terpapar.
  • Italia: Perpustakaan kuno di Roma, Genoa, dan Modena mengalami infestasi manuskrip, dan jamurnya bertahan di rak compactus yang dikontrol iklim.
  • Ukraina: Lukisan dinding di Katedral St. Sophia di Kyiv menunjukkan bercak coklat meski sudah dilakukan pengendalian iklim selama beberapa dekade, hal ini membingungkan para peneliti hingga analisis molekuler mengkonfirmasi keberadaan jamur xerofilik.

Peran Perubahan Iklim

Pemanasan global mempercepat penyebaran jamur ekstremofil ini. Meskipun beberapa wilayah menjadi lebih basah, wilayah lainnya mengalami kekeringan, sehingga mendorong lebih banyak spesies untuk bertahan hidup. Ketika museum memperketat kontrol iklim sebagai respons terhadap pola cuaca yang tidak menentu, mereka secara tidak sengaja menciptakan kondisi sempurna bagi jamur yang kuat ini untuk menjajah koleksi.

Masa Depan Pelestarian

Perlombaan untuk memahami batas-batas kehidupan xerofilik dan mengidentifikasi artefak yang paling rentan sebelum kerusakan lebih lanjut terjadi. Para peneliti sedang mengembangkan metode pengujian baru dan media jamur untuk mendeteksi jamur ini, namun tantangannya tetap ada: bagaimana melindungi warisan budaya dari organisme yang tumbuh subur di tempat yang tidak semestinya. Museum harus menghadapi ancaman yang muncul ini secara terbuka dan berkolaborasi dengan ahli mikologi untuk menyesuaikan strategi pelestarian sebelum lebih banyak lagi sejarah kita yang hilang.

Implikasinya jelas: teknik konservasi tradisional tidak lagi memadai. Pendekatan proaktif dan berbasis ilmu pengetahuan sangat penting untuk melindungi warisan budaya kita dari penjajah yang tak kenal lelah dan mudah beradaptasi ini.

попередня статтяKelelahan Guru: Sistemnya, Bukan Individunya, yang Rusak
наступна статтяAnomali Lotere Filipina: Bagaimana Matematika Mengungkap (dan Menyembunyikan) Penipuan