Remaja Dianiaya oleh Beruang 27.000 Tahun Lalu: Bukti Pertama Serangan Fatal

17

Analisis baru terhadap kerangka berusia 27.000 tahun mengungkap seorang remaja dianiaya secara fatal oleh beruang, sehingga memberikan bukti fisik langka tentang bahaya yang dihadapi manusia purba. Meskipun mereka terampil sebagai pemburu, Homo sapiens juga menghadapi predasi dari hewan kuat seperti beruang gua dan kucing bertaring tajam. Penemuan ini, yang diterbitkan dalam Journal of Anthropological Sciences, penting karena peristiwa seperti itu jarang dicatat dalam catatan arkeologi; biasanya, karnivora memakan mangsanya seluruhnya atau tidak meninggalkan jejak interaksi kekerasan.

Penemuan di Gua Arene Candide

Sisa-sisanya, yang dijuluki “Il Principe” (“Pangeran”) karena kekayaan artefak penguburannya, pertama kali digali pada tahun 1942 di Gua Arene Candide di Italia. Teori-teori sebelumnya menyarankan serangan binatang, namun pemeriksaan ulang baru-baru ini menggunakan pembesaran optik canggih mengkonfirmasi adanya cedera traumatis parah yang konsisten dengan penganiayaan beruang.

Sifat Serangan

Remaja tersebut menderita luka parah, antara lain:
– Mandibula yang copot
– Alur yang dalam di tengkorak
– Tulang selangka patah
– Bekas gigitan di pergelangan kaki kanannya
– Jari kelingking kiri patah

Penulis utama studi, Vitale Stefano Sparacello, mencatat bahwa cedera tersebut menunjukkan bahwa beruang tersebut memandang anak tersebut sebagai ancaman dan bukan mangsa, karena beruang ini memiliki pola makan nabati. Kurangnya penyembuhan tulang menunjukkan anak laki-laki tersebut mengalami rasa sakit yang menyiksa selama berhari-hari sebelum akhirnya menyerah pada luka-lukanya.

Ritual Pemakaman sebagai Respon terhadap Kekerasan?

Penguburan “Il Principe” yang rumit—lengkap dengan topi cangkang tenunan tangan, pisau, dan benda ritual lainnya—mengisyaratkan bahwa komunitas tersebut mungkin bermaksud untuk menghindari kemalangan di masa depan. Menurut Christopher J. Knüsel, antropolog biologi di Universitas Bordeaux, penguburan ini ditujukan untuk orang yang masih hidup dan juga untuk orang yang sudah meninggal.

Kasus ini sangat penting karena memanusiakan zaman yang telah lama berlalu. Lawrence Straus, seorang profesor emeritus antropologi di Universitas New Mexico, menyebutnya sebagai “sekilas gambaran kemanusiaan orang-orang yang hidup pada zaman es terakhir.” Temuan ini menggarisbawahi bahwa pemburu yang terampil pun menghadapi pertemuan brutal dengan alam, dan komunitas mereka merespons kekerasan tersebut dengan ritual dan kenangan.