Meningkatnya Kekhawatiran Terhadap Durasi Layar Anak-Anak Menyebabkan Peraturan Federal

17

Perdebatan mengenai penggunaan teknologi oleh anak-anak meningkat dengan cepat, mulai dari larangan sekolah setempat hingga usulan undang-undang federal yang dapat membatasi akses media sosial bagi mereka yang berusia di bawah 13 tahun dan mengatur konten untuk remaja yang lebih tua. Apa yang awalnya merupakan kebijakan ruang kelas yang tersebar lima tahun lalu, kini menjadi upaya bipartisan di Washington, D.C., dengan para anggota parlemen yang bergulat dengan cara menyeimbangkan pembelajaran, sosialisasi, dan hiburan di era digital.

Dorongan ini terjadi di tengah meningkatnya minat pemerintah federal terhadap regulasi teknologi, seiring dengan tindakan yang diambil oleh Kongres dan Gedung Putih. Pada bulan Januari, Senator Ted Cruz dan Brian Schatz mengadakan sidang bertajuk “Plugged Out”, yang menyoroti potensi bahaya dari waktu menonton yang berlebihan. Sementara itu, perintah eksekutif “Memajukan Pendidikan Kecerdasan Buatan untuk Pemuda Amerika” dari pemerintahan Trump mendorong integrasi AI yang lebih besar ke dalam ruang kelas. Hal ini menciptakan sebuah paradoks: meskipun ada yang menganjurkan pembatasan waktu pemakaian perangkat secara keseluruhan, ada pula yang menganjurkan AI sebagai alat pendidikan.

Meningkatnya Gelombang Pembatasan

Lebih dari separuh negara bagian telah menerapkan beberapa bentuk larangan ponsel di sekolah, dan Florida memimpin penerapannya dengan menerapkan pembatasan “bel-ke-bel”—melarang ponsel sepenuhnya selama jam sekolah. Tren ini mencerminkan konsensus yang berkembang bahwa penggunaan layar yang berlebihan merugikan siswa, meskipun perdebatan terus berlanjut mengenai apakah pelarangan harus diterapkan secara seragam di seluruh distrik atau diserahkan kepada kontrol lokal.

Undang-undang federal yang diusulkan, Kids Off Social Media Act, akan mengambil langkah lebih jauh, melarang anak-anak di bawah 13 tahun menggunakan platform media sosial dan mengharuskan sekolah membatasi akses di jaringan mereka. Hal ini menyusul diskusi yang lebih luas mengenai privasi dan keamanan online, dengan anggota parlemen yang mengakui tantangan yang dihadapi orang tua dalam lanskap digital yang berkembang pesat.

Ketegangan yang Belum Terselesaikan

Para ahli tidak sepakat mengenai apakah solusinya terletak pada peraturan yang lebih ketat atau pendekatan yang lebih berbeda. Beberapa pihak, seperti Brian Jacob dari University of Michigan, percaya bahwa integrasi AI dapat berjalan berdampingan dengan batasan waktu pemakaian perangkat, sehingga menunjukkan bahwa penggunaan untuk tujuan pendidikan pada dasarnya berbeda dari hiburan. Yang lain, termasuk Annette Anderson dari Johns Hopkins, berpendapat bahwa larangan sekolah saja tidak cukup, karena masalah sebenarnya terletak pada pengelolaan waktu menonton di luar kelas.

Kurangnya konsistensi di seluruh sekolah juga menjadi perhatian. Banyak negara bagian yang memiliki pedoman yang tidak jelas, sehingga menyerahkan penegakan hukum kepada guru tanpa arahan yang jelas mengenai penyimpanan atau penerapannya. Beberapa pihak berpendapat bahwa mandat federal dapat membebani kontrol lokal, sementara yang lain berpendapat bahwa pembatasan yang seragam diperlukan untuk perubahan yang efektif.

Gambaran Yang Lebih Besar

Dorongan terhadap regulasi mencerminkan semakin besarnya kesadaran bahwa dampak teknologi terhadap anak-anak merupakan permasalahan sistemik, bukan hanya permasalahan di tingkat sekolah. Meskipun perdebatan terus berlanjut, jelas bahwa para pembuat kebijakan dan pendidik berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mengatasi potensi dampak buruk dari penggunaan gadget yang berlebihan dan menciptakan lingkungan digital yang lebih seimbang bagi generasi muda.

Pada akhirnya, efektivitas upaya-upaya ini akan bergantung pada implementasi yang konsisten, pedoman yang jelas, dan diskusi yang lebih luas tentang cara mengelola penggunaan teknologi baik dalam konteks pendidikan maupun pribadi.

попередня статтяKremasi Akan Mendominasi Perawatan Kematian di AS pada tahun 2045
наступна статтяMemikirkan Kembali Ruang Pembelajaran: Bagaimana Desain Berdampak pada Pendidikan