Sudah terlalu lama, pendidikan mengandalkan data yang melihat ke belakang—nilai ujian dan survei tahunan—yang memberi tahu kita ke mana kita sudah berada, bukan ke mana kita harus pergi. Ini seperti mencoba mengarungi jalan berkelok-kelok hanya dengan memeriksa kaca spion. Pendidik dan pengambil kebijakan memerlukan wawasan real-time untuk menyesuaikan arah, bukan hanya hasil otopsi dari kinerja masa lalu.
Kuncinya adalah Pengukuran Praktis untuk Peningkatan : sistem yang dirancang untuk memandu pengajaran, bukan sekadar memberi label pada hasil. Pendekatan yang ada saat ini sering kali terasa seperti otopsi dan bukan sumber daya untuk pertumbuhan. Untuk menjadi lebih baik, kita harus menyadari bahwa hasil tahunan datang terlambat untuk bisa berguna.
Tiga Tujuan Pengukuran – dan Mengapa Mereka Menjadi Bingung
Masalahnya bukan pada kurangnya data, namun pada kegagalan dalam membedakan tujuannya. Ada tiga cara mendasar untuk mengukur, yang masing-masing memerlukan desain berbeda:
- Akuntabilitas (Papan Skor): Berfokus pada kinerja masa lalu (“Apakah kita mencapai tujuan kita?”). Ini jarang terjadi, berisiko tinggi, dan dirancang untuk menghakimi.
- Penelitian (Laboratorium): Berfokus pada kebenaran yang dapat digeneralisasikan (“Apakah teori ini benar?”). Ini memprioritaskan presisi, seringkali dengan mengorbankan penerapan di dunia nyata.
- Peningkatan (Roda Kemudi): Berfokus pada perubahan langsung (“Apa yang berhasil di sini, dan mengapa?”). Hal ini mengutamakan pembelajaran baik bagi siswa maupun pendidik.
Tujuan mendorong desain. Jika Anda ingin meningkatkan pengajaran minggu depan, Anda memerlukan indikator utama—data yang dapat menginformasikan penyesuaian harian, bukan hanya laporan tahunan.
“Tes Selasa”: Apakah Data Anda Benar-benar Dapat Ditindaklanjuti?
Sebagaimana ditemukan oleh para peneliti, pertanyaan krusialnya adalah: Apa yang akan dilakukan para pendidik dengan data ini di masa depan? Jika hal tersebut terlalu abstrak, tertunda, atau teragregasi sehingga tidak dapat segera dilakukan perubahan, maka hal tersebut tidak ada gunanya.
Langkah-langkah yang efektif harus berupa:
- Sesuai dengan teori : Didasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan.
- Bermakna : Relevan dengan praktik di kelas.
- Dapat ditindaklanjuti : Mampu memicu penyesuaian tertentu.
- Beban rendah : Mudah dikumpulkan tanpa membebani pendidik.
- Tepat waktu : Tersedia cukup cepat untuk menginformasikan siklus pembelajaran PDSA (Plan-Do-Study-Act).
Namun satu ukuran saja tidak cukup. Sekolah adalah sebuah sistem, dan perubahan di satu bidang (seperti kelancaran matematika) akan berdampak pada bidang lain (misalnya motivasi siswa).
Pemikiran Sistem: “Keluarga Ukuran”
Untuk memahami dampak-dampak yang saling berhubungan ini, kita memerlukan “Kelompok Ukuran” yang melacak:
- Hasil (Tujuan): Apa yang ingin kita capai.
- Pendorong (Penanda Utama): Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil.
- Proses (Alur Kerja): Bagaimana segala sesuatunya dilakukan.
- Penyeimbangan (Konsekuensi yang Tidak Disengaja): Baik efek samping positif maupun negatif.
Ketelitian dengan Relevansi: Melampaui “Validitas untuk Penggunaan”
Pengukuran praktis bukan tentang jalan pintas. Hal ini memerlukan ketelitian, namun definisinya harus diperluas. Secara tradisional, psikometri berfokus pada apakah suatu ukuran secara akurat mencerminkan apa yang diklaimnya (“validitas untuk digunakan”). Namun, kita juga memerlukan “validitas yang digunakan”—memastikan bahwa langkah-langkah tersebut didukung oleh rutinitas, budaya, dan infrastruktur teknis untuk mendorong penyelidikan konstruktif, bukan hanya kepatuhan.
Jika suatu tindakan membuat para pendidik menyalahkan siswa alih-alih memperbaiki praktik mereka sendiri, maka tindakan tersebut telah gagal.
Ekuitas dan Variasi: Kekuatan Data Granular
Akuntabilitas tradisional melaporkan hasil rata-rata untuk subkelompok. Namun kemanjuran sebenarnya terjadi pada variasi. Pengukuran praktis menuntut kita untuk mengeksplorasi: “Apa yang berhasil, untuk siapa, dalam kondisi apa?” Pengukuran yang sering dan berisiko rendah memungkinkan tim untuk melihat dengan tepat bagaimana siswa merespons strategi baru, memungkinkan mereka untuk melakukan perubahan minggu ini, bukan tahun depan.
Hal ini mengalihkan fokus dari kerangka defisit (“Apa yang salah dengan siswa-siswa ini?”) ke pemikiran sistem (“Bagaimana sistem kita mengecewakan mereka?”), yang memberdayakan para pendidik untuk bertindak.
Dari Pelaksana ke Penyelidik Bersama: Agen Pemulihan
Pengukuran praktis menggeser dinamika kekuasaan, mengundang guru untuk menjadi rekan peneliti, bukan sekadar pelaksana mandat. Dengan melibatkan para praktisi dalam perancangan tindakan—menanyakan apa yang merupakan bukti pembelajaran yang bermakna—kita membangun keagenan. Pendekatan ini sejalan dengan gerakan Assessment in Service of Learning (AISL), yang mengubah penilaian dari audit eksternal menjadi mesin internal untuk perbaikan.
Para pemimpin dihadapkan pada sebuah pilihan: terus mengemudi melalui kaca spion, atau berinvestasi pada kapasitas untuk mengukur apa yang penting, pada saat yang penting. Pengukuran dapat memicu penyelidikan yang disiplin, namun hanya jika dirancang untuk pembelajaran. Pertanyaan sebenarnya bukanlah “Apakah kita menerapkannya dengan tepat?” Pertanyaannya adalah “Apakah kita meningkat, dengan integritas, dalam konteks ini?” Berhenti menelusuri peta jalan masa lalu dan mulailah mempercepat menuju kemanjuran, setiap hari Selasa.


























