Gelombang Otak Mengungkapkan Bagaimana Kita Menganggap Kata-kata dalam Ucapan

12

Penelitian ilmu saraf baru-baru ini telah menunjukkan dengan tepat tanda-tanda saraf utama dalam pengenalan kata: penurunan cepat gelombang otak gamma tinggi yang terjadi kira-kira 100 milidetik setelah batas kata. Penemuan ini menyoroti bagaimana otak mengubah aliran suara yang berkelanjutan menjadi unit makna yang terpisah, sebuah proses yang telah lama menjadi misteri mengingat kurangnya pemisahan akustik yang jelas antara kata-kata dalam ucapan alami.

Ilusi Batasan Kata

Ucapan manusia tidak dikemas dengan rapi dalam kata-kata individual. Jeda dalam kata-kata sama seringnya dengan jeda di antara kata-kata tersebut, terutama dalam percakapan cepat atau bahasa asing yang bunyinya cenderung menyatu. Artinya, persepsi kita terhadap kata-kata yang berbeda tidak semata-mata ditentukan oleh sifat fisik bunyi, melainkan oleh proses kognitif internal.

Ahli saraf Edward Chang dan timnya di Universitas California, San Francisco, telah mengidentifikasi korelasi saraf langsung dari batas kata dengan mempelajari gelombang otak cepat (gamma tinggi) di area persepsi ucapan. Temuan mereka, yang dipublikasikan di Neuron, menunjukkan bahwa gelombang ini secara konsisten melemah segera setelah setiap kata diucapkan.

“Sepengetahuan saya, ini adalah pertama kalinya kita memiliki korelasi langsung antara saraf otak dengan kata-kata,” jelas Chang. “Itu masalah besar.”

Tanda Tangan Neural di Berbagai Bahasa

Tim peneliti menyelidiki lebih lanjut fenomena ini dalam berbagai bahasa. Sebuah studi di Nature mengungkapkan bahwa penutur asli bahasa Inggris, Spanyol, dan Mandarin semuanya menunjukkan penurunan gamma tinggi yang sama ketika mendengarkan bahasa ibu mereka. Namun, respons ini lebih lemah dan kurang konsisten ketika memproses ucapan asing. Individu bilingual menunjukkan pola yang mirip dengan penutur asli dalam kedua bahasa, dan pembelajar bahasa Inggris menunjukkan respons saraf yang lebih kuat seiring dengan meningkatnya kemahiran mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa otak tidak hanya bereaksi terhadap pola akustik tetapi secara aktif mengatur ucapan berdasarkan struktur linguistik yang dipelajari. Semakin akrab suatu bahasa, semakin jelas sinyal saraf untuk batasan kata.

Interaksi Suara dan Arti

Meskipun temuan ini menawarkan terobosan besar, masih ada pertanyaan tentang bagaimana pemahaman memengaruhi pengenalan kata. Beberapa peneliti berpendapat bahwa otak dapat mendeteksi pola apa pun pemahamannya, sementara peneliti lain berpendapat bahwa makna memainkan peran penting—mirip dengan bagaimana subtitle meningkatkan kejernihan audio yang teredam.

Karya Chang menantang pandangan tradisional tentang pemrosesan bahasa, yang mengasumsikan wilayah otak terpisah untuk suara, kata, dan makna. Sebaliknya, penelitiannya menunjukkan bahwa semua tingkat struktur ini diproses di area yang sama, sehingga mengaburkan batas antara analisis akustik dan kognitif.

Intinya, otak tidak hanya mendengar suara; ia secara aktif menyusun kata-kata dari aliran audio yang berkelanjutan dengan memanfaatkan pola yang dipelajari dan pengaturan waktu saraf. Penelitian lebih lanjut menggunakan bahasa buatan akan sangat penting untuk memahami sepenuhnya interaksi kompleks antara pemrosesan suara, makna, dan mekanisme pengenalan kata di otak.

попередня статтяBeruang Tidak Hibernasi: Apa yang Sebenarnya Mereka Lakukan di Musim Dingin