Jepang Memelopori Daur Ulang Loop Tertutup untuk Popok Sekali Pakai

5

Selama beberapa dekade, popok sekali pakai telah menimbulkan tantangan lingkungan yang semakin besar. Secara global, lebih dari satu triliun popok kotor berakhir di tempat pembuangan sampah setiap tahunnya, dan komponen plastiknya bertahan selama berabad-abad. Kini, Jepang memimpin dalam solusi baru: mendaur ulang popok bekas secara menyeluruh, bahkan popok yang terkontaminasi limbah.

Skala Masalah

Jumlah popok sekali pakai sangat mencengangkan. Di Amerika Serikat saja, produk-produk tersebut merupakan produk konsumen ketiga yang paling banyak dibuang ke tempat pembuangan sampah. Laju dekomposisinya yang lambat—seringkali melebihi 500 tahun—menjadikannya beban lingkungan yang terus-menerus. Meskipun alternatif yang dapat digunakan kembali dan mengurangi konsumsi merupakan strategi jangka panjang yang penting, penanganan aliran limbah yang ada juga sama pentingnya.

Kesuksesan Jepang: Dari Krisis TPA hingga Ekonomi Sirkular

Terobosan ini dibangun berdasarkan sistem yang sudah diterapkan di kota Shibushi dan Osaki di Jepang. Menghadapi masalah kapasitas TPA 25 tahun yang lalu, kota-kota ini secara dramatis meningkatkan tingkat daur ulang, dan kini mengalihkan sekitar 80% sampah rumah tangga. Pada tahun 2024, mereka memperluas programnya dengan memasukkan popok kotor.

Prosesnya melibatkan pengumpulan, pembersihan, pencacahan, dan pemisahan popok menjadi plastik, bubur kain, dan polimer penyerap super (SAP). Unicharm, produsen produk kebersihan terkemuka, kini menyempurnakan sistem ini dengan pengolahan ozon baru. Perawatan ini mensterilkan, memutihkan, dan menghilangkan bau pada pulp, sehingga membuka kemungkinan daur ulang baru. Perusahaan berencana untuk memasukkan SAP dan limbah plastik ke dalam produksi popok baru pada tahun 2028.

Sistem Loop Tertutup

Tujuannya adalah untuk menciptakan ekonomi sirkular untuk popok. Produk daur ulang saat ini tersedia di pasar uji dengan harga premium 10%. Namun, Unicharm mengantisipasi bahwa penerapan yang lebih luas dapat mengurangi konsumsi air selama produksi. Perusahaan bertujuan untuk mengintegrasikan program ini dengan 20 kota dalam dekade berikutnya.

Mengapa Jepang? Tren Demografis dan Pergeseran Pasar

Populasi lansia di Jepang merupakan faktor kunci yang mendorong inovasi ini. Meskipun permintaan popok bayi menurun, kebutuhan akan produk inkontinensia dewasa dan bahkan popok hewan peliharaan semakin meningkat. Menurut presiden Unicharm, Takahisa Takahara, mengubah produk sekali pakai sebagai bagian dari siklus daur ulang yang positif sangat penting agar produk tersebut layak secara ekonomi. Dengan menormalisasi popok daur ulang, mereka berharap dapat mengatasi keengganan konsumen.

“Permintaan popok bayi menurun. Namun semakin banyak orang lanjut usia yang memakai popok, dan baru-baru ini, bahkan hewan peliharaan pun juga demikian. Jika kita dapat mengubah rasa bersalah yang mungkin dirasakan konsumen ketika menggunakan produk sekali pakai menjadi sesuatu yang positif, dan menjadikan penggunaan produk daur ulang sebagai norma di masyarakat, hal ini akan menjadi layak secara ekonomi.”

Pendekatan ini menyoroti bagaimana solusi lingkungan seringkali bersinggungan dengan realitas demografis. Situasi unik di Jepang, dipadukan dengan kepemimpinan kota yang proaktif dan investasi industri, telah menempatkan Jepang sebagai pionir dalam daur ulang popok.

Sistem ini menawarkan model konkrit untuk mengatasi krisis limbah popok global. Hal ini menunjukkan bahwa bahan-bahan yang sangat terkontaminasi sekalipun dapat diintegrasikan kembali ke dalam sektor manufaktur, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap TPA dan mendorong masa depan yang lebih berkelanjutan.

попередня статтяBisakah AI Memecahkan Bukti Matematika Nyata? Peneliti Menguji Model Generatif