Bagaimana Helen Keller Membangun ACLU dan Mendanai Advokasi Kebutaan

7

Kebanyakan orang mengenal Helen Keller sebagai simbol kemenangan atas disabilitas. Namun warisannya yang sebenarnya bukan sekedar kelangsungan hidup pribadi melainkan lebih banyak tentang perubahan struktural. Dia tidak hanya belajar berbicara. Dia membangun organisasi yang masih membentuk hak-hak sipil Amerika hingga saat ini.

Pekerjaannya dengan American Foundation for the Blind merupakan hal yang mendasar. Dia tidak hanya memberi kuliah untuk mereka. Dia menggunakan platformnya untuk meminta sumber daya. Usahanya menghasilkan dana abadi sebesar $2 juta untuk organisasi tersebut. Dana tersebut masih mendukung penyandang tunanetra melalui program dan advokasi. Itu bukanlah sumbangan. Itu adalah investasi di bidang infrastruktur.

Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada kebebasan sipil. Pada tahun 1920, ia ikut mendirikan American Civil Liberties Union. Dia berdiri bersama Roger Nash Baldwin dan aktivis lainnya. Mereka melihat adanya kesenjangan dalam perlindungan hukum bagi suara-suara yang terpinggirkan. Keller bergabung dengan mereka karena dia memahami bahwa hak disabilitas adalah hak sipil. Kehadirannya memberikan kredibilitas pada gerakan yang sering diabaikan oleh kelompok mapan.

Kenapa dia melakukannya? Karena isolasi bukan hanya sekedar fisik. Itu sah. Itu politis. Dia menolak membiarkan kecacatannya menentukan batas dampaknya. Dia memperluas batasan itu.

ACLU kemudian mempertahankan Amandemen Pertama. Foundation for the Blind menyediakan layanan penting. Nama Keller tertera pada keduanya. Metodenya sederhana. Bicaralah dengan keras. Tulis cek. Datang.

Saat ini, siswa mempelajari kehidupannya sebagai inspirasi. Orang tua melihatnya sebagai mercusuar. Namun pekerjaannya masih belum selesai. Sistem yang ia bantu bangun masih menghadapi tantangan. Dana abadi tersebut masih perlu dikelola. ACLU masih menghadapi tekanan politik.

Keller tidak meninggalkan patung. Dia meninggalkan sebuah mesin. Dan mesin terus berjalan.