Misteri Bola Emas: Ilmuwan Mengidentifikasi Penemuan Laut Dalam yang Aneh

18

Pada Agustus 2023, para peneliti yang menjelajahi kedalaman Teluk Alaska menemukan sebuah objek yang lebih mirip objek fiksi ilmiah daripada organisme biologis. Sebuah bola emas berkilauan, berdiameter sekitar empat inci, terekam dalam video oleh kapal selam yang dikendalikan dari jarak jauh dua mil di bawah permukaan laut.

Meskipun teori awal berkisar dari cangkang telur yang tidak diketahui hingga bentuk kehidupan yang benar-benar baru, upaya kolaborasi antara National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan Smithsonian Institution akhirnya mengungkap identitas aslinya.

Dari Misteri Fiksi Ilmiah hingga Realitas Biologis

Penemuan tersebut terjadi selama ekspedisi kapal NOAA Okeanos Explorer. Saat mengamati gunung bawah laut, kru melihat benda berbentuk kubah menempel di batu. Penampilannya yang tidak biasa—menyerupai “topi kuning”—menimbulkan rasa penasaran. Karena objek tersebut tampak biologis tetapi tidak memiliki ciri-ciri yang dapat dikenali, objek tersebut dikumpulkan dan dikirim ke Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian untuk pengujian yang ketat.

Untuk memecahkan teka-teki ini, para ilmuwan menggunakan pendekatan multidisiplin, yang menggabungkan:
Analisis morfologi (mempelajari struktur fisik)
Pengurutan genetik (menganalisis DNA)
Bioinformatika (memproses data biologis yang kompleks)

Pengungkapan: Siklus Hidup Tersembunyi

Penyelidikan mengungkapkan bahwa “bola” itu bukanlah makhluk tunggal dalam tahap kehidupan baru, melainkan sisa-sisa anemon laut dalam.

Melalui pengurutan seluruh genom, para peneliti menentukan bahwa objek tersebut memiliki DNA mitokondria yang hampir identik dengan spesies yang diketahui: Relicanthus daphneae . Spesies anemon ini pertama kali ditemukan pada tahun 1970-an tetapi baru diklasifikasikan secara resmi pada tahun 2006.

Mengapa terlihat aneh?

Bentuk bola yang tidak biasa ini disebabkan oleh cara organisme tersebut menempel pada dasar laut.
Relicanthus daphneae mengeluarkan zat lengket untuk melekatkan dirinya pada batu.
– Seiring waktu, anemon membangun “lapisan dan lapisan” bahan berserat ini.
– “Bola emas” pada dasarnya adalah akumulasi massa sekresi dan struktur biologis yang digunakan anemon untuk merekatkan dirinya pada tempatnya.

Meskipun bola tersebut tampak soliter dan anorganik, sebenarnya itu adalah jejak struktural makhluk hidup yang biasanya memiliki tentakel berwarna merah muda atau ungu pucat yang panjangnya mencapai tujuh kaki.

Mengapa Eksplorasi Laut Dalam Penting

Penemuan ini menyoroti tren yang lebih luas dalam biologi kelautan: kesenjangan antara apa yang kita lihat dan apa yang sebenarnya kita pahami. Laut dalam masih menjadi salah satu wilayah yang paling sedikit dieksplorasi di Bumi, dan banyak spesies yang masih “tersembunyi di depan mata” karena bentuk fisik mereka tidak sesuai dengan harapan kita.

“Sering kali dalam eksplorasi laut dalam, kita menemukan misteri yang menawan ini… Dengan teknik canggih seperti pengurutan DNA, kita dapat memecahkan lebih banyak lagi misteri tersebut.”
William Mowitt, penjabat direktur NOAA Ocean Exploration

Kemampuan untuk mengurutkan DNA dari spesimen yang tidak diketahui mengubah penelitian laut dalam. Para ilmuwan percaya bahwa ribuan spesimen tak dikenal yang saat ini disimpan di koleksi museum dapat menghasilkan terobosan serupa jika dilakukan pemeriksaan genetik yang sama.


Kesimpulan
“Bola emas” itu akhirnya diidentifikasi sebagai akumulasi bahan penahan anemon Relicanthus daphneae. Kasus ini menunjukkan bagaimana teknologi genetika modern mengubah anomali laut dalam yang misterius menjadi bagian penting dari pengetahuan biologi.