London baru saja mencapai titik tertinggi baru di bulan Mei. Hampir 35 derajat F. Rasanya seperti bulan Juli di sana. Mungkin Agustus. Prancis mendorong 99 derajat, Spanyol menembus 100 derajat.
Rekam demi catatan.
Ada “kubah panas” yang berada di Eropa Barat saat ini. Bayangkan sebuah tutup bertekanan tinggi, tertutup rapat, memerangkap udara panas di bawahnya. Sebuah oven raksasa Belanda dengan kompornya menyala.
Perubahan iklim memicu kebakaran tersebut.
Friederike Otto, seorang profesor iklim di Imperial College London, menyatakan hal ini sudah jelas. Panasnya membawa tanda-tanda pemanasan yang disebabkan oleh manusia. Suhu ini dulunya merupakan anomali langka. Sekarang, itu adalah perkiraan cuaca Selasa sore.
Sebuah studi dari ClimaMeter yang dirilis Selasa menunjukkan adanya perubahan. Suhu dasar hangat telah melonjak sekitar 4,5 derajat dibandingkan sebelumnya. Panas ekstra ini menciptakan zona tekanan tinggi yang stagnan. Ini menghalangi hujan. Ini menghalangi awan. Matahari terbenam tanpa henti, memanaskan tanah hingga daratan kembali menyinari kita.
Apakah itu mematikan? Ya. Tujuh kematian di Prancis sejauh ini terkait dengan lonjakan tersebut. Tubuh kita mengingat musim dingin. Kami lamban, tidak beradaptasi. Rasa dingin masih segar di otot kita sementara termostat meroket.
Otto bukan bagian dari penelitian ini, tetapi peringatannya tetap berlaku. Rekor akan terus dipecahkan. Kita hidup di dunia yang tidak kita kenali, dengan bangunan-bangunan yang dirancang untuk era yang berbeda dan lebih sejuk.
Infrastrukturnya belum siap. Tidak ada apa pun.
