Archimedes lahir pada tahun 287 SM. Rumahnya adalah Syracuse, sebuah kota di pulau Sisilia. Dia tidak pernah meninggalkan tempat ini. Bukan karena peperangan yang mengelilinginya. Bukan karena politik yang berubah di sekelilingnya. Dia tinggal. Dan ketika Romawi akhirnya merebut kota itu, dia juga mati di sana.
Waktunya berantakan. Pengepungan berakhir pada tahun 212 atau 211 SM. Sejarawan masih memperdebatkan tanggal pastinya. Namun hasilnya jelas. Roma menang. Syracuse jatuh. Dan Archimedes telah pergi.
Bagaimana seorang ahli matematika mati dalam perang? Kisah yang diketahui kebanyakan orang adalah yang paling dramatis. Seorang tentara Romawi masuk ke rumahnya. Archimedes sedang melakukan pembuktian. Dia sedang menggambar di tanah. Dia tidak melihat ke atas. Dia tidak berhenti bekerja. Dia menyuruh prajurit itu menunggu. Atau mungkin dia mengabaikannya. Tentara itu membunuhnya. Kedengarannya seperti adegan film. Tapi itu mungkin benar.
Archimedes meninggal karena menolak meninggalkan karya matematikanya.
Ada lapisan yang lebih gelap dalam hal ini. Jenderal Romawi yang memimpin adalah Marcus Claudius Marcellus. Dia bukan hanya seorang penakluk. Dia adalah seorang penggemar. Marcellus mengagumi Archimedes. Dia tahu lelaki tua itu telah membuat mesin pintar untuk mempertahankan kota. Mesin perang. derek. Cermin. Hal yang membuat tentara Romawi terlihat bodoh. Marcellus menginginkan Archimedes hidup. Dia ingin mempelajari pikirannya.
Maka ketika tentara itu membunuhnya, Marcellus sangat marah. Dia menyesalinya. Dia tahu dia telah kehilangan sesuatu yang langka. Seorang jenius. Pikiran yang dapat mengubah fisika sesuai keinginannya.
Mengapa hal ini menjadi penting saat ini? Kami menganggap sejarah sebagai tanggal dan pertempuran. Namun Archimedes mengingatkan kita bahwa ide itu rapuh. Mereka bisa dihancurkan di bawah pedang. Mereka bisa terlupakan di bawah reruntuhan. Karyanya bertahan. Namanya tidak. Tidak pada awalnya. Selama berabad-abad, dia hanyalah sebuah cerita. Hantu di tembok Syracuse.
Sekarang kita mempelajarinya. Kami menggunakan rumusnya. Kami memecahkan teka-tekinya. Tapi kita tidak berjalan di jalan yang dia lalui. Kami tidak melihat kotoran yang dia ambil. Kami hanya membacanya. Dan itu sudah cukup. Untuk saat ini.