Terletak di kawasan abad pertengahan Kairo, tepat di samping Masjid al-Azhar yang bersejarah, berdiri sebuah institusi yang telah membentuk kesarjanaan Islam selama lebih dari satu milenium. Didirikan oleh Dinasti Fāṭimid pada tahun 970 M, Universitas Al-Azhar menyandang gelar sekolah utama pembelajaran Islam dan Arab secara global.
Misi intinya tetap konsisten. Selama berabad-abad, kurikulum berfokus pada tiga pilar: hukum Islam, teologi, dan bahasa Arab. Jika Anda mencari landasan yang stabil dalam studi agama, di sinilah tempatnya.
Lanskapnya bergeser selama Abad Pertengahan. Universitas memperluas wawasannya dengan memasukkan filsafat dan studi kedokteran. Ini adalah langkah yang berani pada masanya. Namun penambahan ini akhirnya dihapuskan dari kurikulum utama. Fokusnya kembali pada fundamental agama.
Lalu datanglah era modern. Filsafat kembali muncul pada akhir abad ke-19. Itu bukanlah perubahan dalam semalam. Butuh waktu. Ilmu-ilmu sosial bergabung dengan partai tersebut pada awal tahun 1960-an di kampus cabang. Hal ini menandai perluasan yang signifikan melampaui batas-batas teologis tradisional.
Lalu bagaimana dengan akses? Wanita pertama kali diterima pada tahun 1962.
Universitas Al-Azhar telah beradaptasi dari seminari teologi murni menjadi universitas yang kompleks dengan tetap mempertahankan akar Islamnya.
Saat ini, institusi ini melayani siswa, orang tua, dan pembelajar seumur hidup yang tertarik pada titik temu antara tradisi dan modernitas. Hal ini menjawab pertanyaan bagaimana lembaga-lembaga kuno bertahan di dunia modern. Itu tidak hanya melestarikan sejarah. Ini memperbaruinya.
Mengapa hal ini penting sekarang? Karena pemahaman Universitas Al-Azhar membantu menjelaskan keadaan pendidikan Islam saat ini. Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah institusi dapat menjembatani pemikiran selama berabad-abad.
Ceritanya belum selesai. Ini terus berkembang. Dan jika Anda mempelajari sejarah pendidikan, Anda perlu mencermati Kairo.



















