Sound Guardians: Merekam Hilangnya Kalimantan

15

Jakarta tenggelam.

Sepertiga wilayah kota ini bisa terendam air pada tahun 2050, akibat tenggelamnya daratan dan naiknya air laut. Jadi Indonesia sedang membangun yang baru. Di Kalimantan. Pada tahun 2045, pemerintah berharap dapat mewujudkan kota metropolitan yang cerdas dan hijau. Mereka menyebutnya Nusantara.

Kedengarannya bagus. Video pemasaran tersebut berbicara tentang sejarah pertemuan masa depan di pusat keanekaragaman hayati. Sebuah upaya kolektif.

Hutan punya rencana lain.

Wendy Erb, seorang ahli ekologi, mengetahui ada yang tidak beres saat ibu kota dipindahkan ke Kalimantan. Dia telah bekerja di sana selama satu dekade. Memindahkan jantung suatu bangsa ke tengah hutan hujan bukan hanya sekedar real estate. Ini adalah peristiwa biologis.

“Kami memiliki perekam di puncak gunung, di hutan bakau, di samping gua.”

Proyek ini sederhana di atas kertas: menangkap lanskap akustik. Buat kapsul waktu sebelum mesin bekerja. Mereka mengambil sampel di dua puluh lokasi. Direkam selama delapan belas bulan.

Mereka ingin tahu ke mana perginya satwa liar ketika kebisingan berubah. Saat gergaji mesin mulai.

Kebisingan Perubahan

Temui Abidin.

Dia telah tinggal di Pemaluan sepanjang hidupnya. Lahir di sana. Tidak pernah pindah. Itu adalah tanah leluhurnya. Dia menyukai pegunungan. Yang tenang. Keamanan.

Kemudian konstruksi datang.

“Owa-owa bersuara saat fajar. Tepat sebelum pagi hari. Jika mereka bersuara pada pukul sembilan atau sepuluh, dan hutan sepi… seseorang akan mati. Itulah yang diketahui kakekku. Sekarang, aku mendengar suara gergaji mesin.”

Abidin teringat saat ayam air berdada putih paling berisik di hutan. Saat burung enggang berteriak. Saat burung argus besar menjadi raja padang rumput. Masyarakat Balik memuja burung itu. Anak-anaknya sendiri tidak tahu seperti apa bunyinya.

Argus yang hebat itu ikonik. Hal ini juga memudar.

Alih-alih burung, ada logam. Mesin berdengung. Jeritan khas mesin menggantikan paduan suara siamang. Abidin ketakutan. Bukan hanya untuk burung. Untuk mengenang rakyatnya. Kalau bunyinya hilang, ilmunya ikut hilang.

Jadi mereka merekam. Bukan hanya sebagai ilmuwan, tapi sebagai arsiparis dari budaya yang terancam punah.

“Ramalannya seperti ini… Seperti aliran sungai.”

Abidin menjelaskan, selama berabad-abad, semuanya mengalir ke Jakarta. Sumber daya. Kekuatan. Perhatian. Kini sungai itu berbalik arah. Desanya menjadi ramai. Dia melihat apartemen. Dia melihat Swiss-Belhotel. Dia melihat sebuah istana.

Sepertinya ada sesuatu sekarang. Itu bukan kota kemarin. Ini bukan hutan besok.

Mendengarkan Hutan yang Sakit

Erb dan timnya sedang mendengarkan apa yang disebutnya “laser permen karet”. Tupai raksasa. Kicauan aneh dan tajam yang berarti kesehatan di kanopi.

Jika hal ini dihentikan, maka hutan akan sakit.

Tapi ini bukan hanya soal jumlah spesies. Ini tentang orang-orang. Peneliti lokal membantu mereka menjelaskan permasalahannya. Mereka mengidentifikasi situs-situs tersebut. Mereka mengajari tim nama-nama hal yang tidak mereka ketahui. Seperti besawan, batang tanaman hanya dimakan pada keadaan darurat saat tidak ada makanan.

“Apakah rasanya enak?” Erb bertanya.

“Jika sudah matang, ya.”

Ilmu pengetahuan meningkat karena masukan lokal. Namun manusia juga mendapatkan manfaatnya. Mereka mendefinisikan realitas mereka sendiri. Tidak menunggu pakar dari luar untuk memberi tahu mereka apa yang penting.

Bisakah kita menyetel telinga kita? Dapatkah Anda memperhatikan ketika rumah Anda mulai terasa tidak beres?

Tidak Ada Akhir yang Bersih

Abidin mempunyai rasa takut terhadap cucu-cucunya. Mereka tertinggal jauh dibandingkan anak-anak di Pulau Jawa dalam hal pendidikan. Gaya hidup lama—mengandalkan hutan—sedang sekarat. Dia tidak tahu bagaimana mereka bisa bertahan hidup di kota yang tidak mereka pahami.

“Saya sendiri tidak bisa tinggal di kota… Kalau kita menjadi pemulung… lebih baik mati saja.”

Itu kasar. Tapi benar.

Para peneliti tidak dapat menghentikan pembangunannya. Apartemennya ada di sana. Anggaran tersebut dipangkas pada tahun 2025 oleh presiden baru, sehingga membayangi proyek tersebut, namun buldoser masih berfungsi. Masa depan tidak pasti, namun juga tidak bisa dihindari.

Yang bisa mereka lakukan hanyalah merekam. Pertahankan suaranya. Baik milik hutan maupun milik Abidin.

Erb khawatir orang-orang akan kehilangan koneksi. Jaring antara tanah dan manusia putus, benang demi benang. Abidin mencoba mengajari anak-anaknya bahasa tersebut. Suara binatang. Ia berharap mereka akan mengingat budaya tersebut ketika mereka seusianya.

Perekamnya masih menyala.

Hujan turun di Kalimantan. Di suatu tempat, gergaji mesin memotong.

попередня статтяPerangkap Hibah: Mempolitisasi Ilmu Pengetahuan
наступна статтяBerhenti ngebut, hemat uang tunai